Laporan Wartawan JPNN JAKARTA – Tahun depan Bank Indonesia (BI) tak akan mencetak lagi uang kertas pecahan seribu rupiah. Namun bank sentral masih mencetak uang logam dalam pecahan tersebut. BI juga akan merealisasikan pencetakan uang kertas pecahan dua ribu rupiah paling lambat semester kedua tahun ini. Dengan demikian, mulai tahun depan, uang kertas pecahan terkecil adalah dua ribu rupiah. ”Kalau rencana kita, yang seribu itu kan logam, jadi pecahan dalam kertas yang paling rendah itu dua ribu,” kata Deputi Gubernur BI Budi Rochadi di Jakarta akhir pekan lalu (29/2). Budi mengatakan kebijakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Selain itu juga didasarkan pada efisiensi biaya yang harus ditanggung BI. ”Kalau dari BI, mengeluarkan seribu sama dua ribu, kan lebih baik dua ribu. Karena cost kan,” kata Budi. Sedangkan pertimbangan membuat uang pecahan seribu dalam bentuk logam semua, memang berbiaya lebih mahal. Namun menurut Budi, masa pakainya lebih lama. Sehingga ongkosnya bisa lebih murah karena tidak perlu sering diganti karena rusak. ”Kalau logam lebih awet, meskipun lebih mahal. Sehingga kalau kotor kan dicuci bisa. Kalau kertas kan tidak bisa,” katanya. Budi menambahkan, saat ini bank sentral masih menyiapkan pencetakan uang pecahan dua ribu. ”Bikin duit itu kan enggak gampang. Kalau kita mau mengeluarkan emisi baru, itu kan persiapannya bisa dua tahun,” ujar Budi. Sebenarnya bank sentral menargetkan semester pertama bisa selesai. Namun karena ada perubahan desain gambar, emisi uang terbaru tersebut bisa molor hingga semester kedua. ”Kami mau mengganti gambarnya dengan reog sepertinya. Biar enggak diaku oleh Malaysia,” seloroh Budi. Dia menambahkan, kebutuhan total pencetakan uang tahun ini mencapai Rp5,6 miliar bilyet. (*)
Disadur dari www.radarkotabumi.com